Kolonial di Bumi Ngrowo “Sejarah Pabrik Gula Modjopanggoong”

Tuan Danger adalah seorang Bangsa Belanda yang mempunyai gagasan untuk mendirikan sebuah Pabrik Gula. Demi mewujudkan angan-angannya ia merangkul seorang pribumi yang diyakini mengetahui dan mengerti syarat-prasarat untuk mendirikan pabrik, dan pribumi tersebut adalah  Mbah Wongsodikromo. Hingga terjadi kesepakatan-kesepakatan dan terbentuknya ikatan batin kedua sosok yang berbeda bangsa tersebut.

Pada tahun 1852 bertempat di desa Sidorejo, Kauman, Kalangbret,  Tulungagung berdirilah sebuah pabrik gula yang diberi nama Pabrik Gula Modjopanggoong. Tidak lama kemudian Pabrik Gula Modjopanggoong siap berproduksi. Sepeninggal Tuan Danger, kepemilikan Pabrik Gula Modjopanggoong diambil alih oleh nyonya Contring yang merupakan putri dari tuan Danger. Dengan berjalannya waktu akhirnya Pabrik Gula Modjopangoong diambil alih oleh NKRI pada masa setelah penjajahan. Akan tetapi kebiasaan yang telah ada sejak awal berdirinya Pabrik Gula Modjopanggoong tersebut tetap dilaksanakan hingga sekarang. Tradisi tersebut adalah tradisi temanten tebu yang dilaksanakan setiap akan mulai masa giling. Pabrik Gula Modjopanggoong memiliki masa giling enam hingga delapan bulan dan masa istirahat sekitar empat bulan setiap tahunnya. Dalam kurun waktu empat bulan tersebut pihak Pabrik Gula Modjopanggoong biasa mengadakan serangkaian acara gebyar rakyat, salah satunya adalah tradisi manten tebu yang dilanjutkan dengan acara hiburan berupa kesenian-kesenian yang terdapat di Tulungagung.

Selain tradisi temanten tebu yang masih dilaksanakan hingga sekarang masih terdapat beberapa peninggalan Belanda berupa alat dan bangunan yang masih terawat dengan baik di dalam Pabrik Gula Modjopanggoong tersebut. Bangunan tersebut berupa rumah indis (rumah asli zaman kolonial). Rumah indis tersebut berdiri kokoh di sekitar halaman Pabrik Gula Modjopanggoong. Sebagian besar dari rumah indis tersebut masih dihuni oleh para pekerja pabrik. Sedangkan peninggalah lainnya adalah berupa alat produksi yakni cerobong asap, tangki uap, serta pompa air yang masih sering dimanfaatkan pihak Pabrik Gula Modjopanggoong dalam proses produksi.

Iklan

Raksasa di Bumi Ngrowo “Sekilas Waduk Wonorejo”

Mengelilingi Kota Tulungagung, mungkin kita akan selalu disuguhi bentangan persawahan yang merupakan sumber pencaharian mayoritas masyarat Tulungagung, dan penggunungan menjulang ke langit yang selalu nampak dari berbagai penjuru. Imajinasi kita tidak akan putus ketika membayangkan betapa indahnya Kota Bersinar Tulungagung. Diantara pemandangan elok di setiap hamparan, terdapat sebuah bendungan/waduk raksasa yakni Waduk Wonorejo.

Waduk Wonorejo, Sebagai daerah yang notabene-nya mempunyai unsur akar rumput kebudayaan yang kuat dan beraneka, Tulungagung merupakan daerah penjunjung tinggi nilai budaya dan pariwisata. Karena salah satu cara agar sesuatu dikenal adalah dengan cara diperkenalkan. Salah satu obyek wisata kawasan dataran tinggi yang diperkenalkan Tulungagung  Jawa Timur  adalah obyek wisata Pegunungan Waduk Tulungagung. Bendungan ini memiliki luas 3,85 juta meter persegi dan merupakan salah satu bendungan terbesar se-Asia Tenggara. Hamparan air bendungan yang tenang dan berwarna biru menyapa siapa pun yang berkunjung ke Bendungan Wonorejo. Suasana sejuk di salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara itu selaras dengan suasana alam sekitarnya yang serba hijau dan rindang. Di kanan-kiri jalan terhampar sawah dan deretan pepohonan.

Pembangunan Waduk Wonorejo dimulai tahun 1992. Untuk keperluan pembangunan itu, sebanyak 995 keluarga telah dipindahkan dari tempat mereka bermukim. Tercatat pula tujuh orang tewas selama proses pembangunan. Total dana yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 22,049 milyar, ditambah 18,71 milyar yen dana bantuan Pemerintah Jepang. Perusahaan Listrik Negara (PLN), usai pembuatan waduk tuntas, melengkapi dengan membangun jaringan listrik. Total biaya untuk instalasi listrik sebesar Rp 10,9 milyar, plus 577 juta yen dari Pemerintah Jepang.

Di beberapa sudut waduk berkapasitas tampung 122 juta meter kubik itu kerap terlihat pasangan remaja memadu kasih. Sementara di sisi lainnya, serombongan keluarga yang mengendarai mobil pribadi, berkeliling di seantero bendungan. Waduk Wonorejo tak pelak lagi merupakan “primadona” baru di dunia pariwisata Tulungagung.

Riak air bendungan yang tenang, berkilau dibawah sinar matahari dan berwama biru seolah-olah menyapa pengunjung yang datang ke Bendungan Wonorejo. Suasana sejuk, jalan berkelok, dipagari pohon-pohon rindang nan hijau, menaungi siapa pun yang lewat, agar panas tak terasa.

Di beberapa sudut waduk berkapasitas tampung 122 juta meter kubik itu kerap terlihat serombongan keluarga yang mengendarai mobil pribadi, berkeliling di sekitar bendungan, di tempat yang lain, keluarga lainnya asyik mengambil gambar di latar belakangi kokohnya gunung batu berpahat “Bendungan Wonorejo”. Sarana pemasok air PDAM itu diresmikan oleh Wakil Presiden (waktu itu) Megawati Soekamoputri, 21 Juni 2001, terletak di desa Wonorejo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. Lokasi bendungan berada pada Kali Gondang, ± 400 meter di hilir pertemuan antara Kali Bodeng dengan Kali Wangi. Hulu Kali Gondang berada di selatan Gunung Wilis. dibangun sebagai pengendalian banjir di kota seluas 1.055,65 kilometer persegi itu.

Bendungan yang terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, KabupatenTulungagung, Jawa Timur ini selalu ramai dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar kota Tulungagung. Bahkan data jumlah kunjungan wisatawan menunjukkan tren positif setiap bulannya, yaitu pada kisaran ratusan pengunjung perbulan. Jika dikalkulasi, dalam satu tahun setidaknya tercatat ada3.000 pengunjung yang ingin menikmati keindahan bendungan ini.

Namun, asumsi jumlah kunjungan wisatawan itu bisa lebih banyak lagi bila pihak pengelola wisata bendungan dan pemkab menggelar pesta rakyat, seperti pentas dangdut dan beberapa pertunjukan kesenian tradisional setempat. Jumlah kunjungan pun bisa menembus 15.000 orang pertahun.

Kedatangan para wisatawan itu bukannya tanpa alasan. Sebelumnya Dinas Pariwisata, Seni dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung telah getol memoles dan mempromosikan keberadaan potensi wisata Bendungan Wonorejo.

Di bendungan ini sudah dilengkapi sarana penunjang bagi wisatawan, seperti penginapan, restoran,jogging track, taman rekreasi keluarga, dan kenyamanan jalur transportasi menuju lokasi yang sangat layak untuk dilalui berbagai jenis kendaraan. Setelah dibuka untuk umum sebagai kawasan wisata, setiap pengunjung yang masuk ke kawasan  waduk harus membayar Rp 2.000/orang. Selepas melewati pintu masuk, pengunjung tinggal menempuh perjalanan sekitar satu kilometer untuk mencapai lokasi bendungan.

Selain wisata, keberadaan bendungan berkapasitas tampung 122 juta meter kubik ini juga memiliki sejumlah fungsi penting. Fungsi itu antara lain, menyediakan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Surabaya sebanyak 8 meter kubik perdetik, mengusahakan pembangkit tenaga listrik 6,02 megawatt, mengendalikan banjir bagi daerah Tulungagung seluas 1.479 hektar, dan mendukung irigasi pertanian untuk sawah penduduk setempat seluas 1.200 hektar dan juga sebagai budidaya perikanan. Maniaat lainnya adalah untuk masyarakat di sekitarnya. Seperti budidaya perikanan, kawasan sabuk hijau untuk tanaman keras produktif, serta pariwisata. Untuk perikanan, Waduk Wonorejo dapat 200 ton ikan per tahun.

Karena perannya tersebut, bendungan ini pun memiliki banyak kelebihan. Yaitu pada elelvasi titik puncak setinggi 188 meter, tinggi bendungan 100 meter, panjang bendungan 545 meter dan volume timbunan 6,05 juta meter kubik. Jadi tidak ada salahnya bila sobat mengunjungi Bendungan Wonorejo ini dengan suasana pegunungan yang sejuk. Jika sekarang masih menjadi bendungan terbesar se-Asia Tenggara, bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan menjadi bendungan wisata terbaik di dunia. Banggalah diriku bisa terlahir di kota peraih Adipura Kencana 2014.

Terima Kasih TULUNGAGUNG.

www.sinizam.com www.pagunpost.com

BELAJAR DARI ORANG HEBAT